INOVASI PENGEMBANGAN JAMU, DARI KARANGANYAR UNTUK INDONESIA

Jamu adalah produk ramuan bahan alam asli Indonesia yang digunakan untuk pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan penyakit, pemulihan kesehatan, kebugaran, dan kecantikan. Jamu dibuat dari bahan-bahan alami, berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan dan kulit batang, buah. Ada juga menggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti empedu kambing atau tangkur buaya. Jamu berasal dari bahasa Jawa, yakni kata djampi dan oesodo. Djampi berarti penyembuhan yang menggunakan ramuan obat-obatan atau doa-doa atau aji-aji, sedangkan usodo berarti kesehatan.

Indonesia merupakan negara tropis dengan potensi tanaman yang secara turun temurun digunakan sebagai obat tradisional. Hal itu tercermin antara lain pada lukisan di relief Candi Borobudur dan resep tanaman obat yang ditulis dari tahun 991 sampai 1016 pada daun lontar di Bali. Indonesia yang memiliki peringkat 2 biodiversitas dunia tentunya memiliki potensi yang sangat besar dalam penyediaan tanaman obat dunia.

Permintaan jamu akhir-akhir ini mengalami peningkatan dengan pertumbuhan pangsa pasar yang lebih baik daripada tingkat pertumbuhan industri farmasi. Terdapatnya tren back to nature yang mengakibatkan masyarakat semakin menyadari pentingnya penggunaan bahan alami bagi kesehatan. Masyarakat semakin memahami keunggulan penggunaan obat tradisional, antara lain: harga yang lebih murah, kemudahan dalam memperoleh produk, dan mempunyai efek samping yang minimal.

 

Dimanakah kota jamu?

Bulan April 2015 lalu, menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani menetapkan kabupaten Sukoharjo sebagai kabupaten penghasil Jamu. Namun demikian, setidaknya ada empat kota penghasil jamu di Indonesia yakni sukoharjo pusat jamu gendong, Sidoarjo asal muasal Meneer, Semarang yang terkenal dengan pabrik-pabril jamu, dan Jogja yang merupakan asal muasal dari PT Sido Muncul

  1. Sukoharjo

Kota eks karesidenan surakarta ini menjadi pusat jamu gendong. Sampai-sampai di daerah Bulakrejo, Sukoharjo terdapat patung seorang ibu yang menggendong jamu dan pak tani yang memakai caping yang mencerminkan kebiasaan masyarakat disana yang sudah sangat akrab dengan jamu.

  1. Sidoarjo

Buat anda pecinta jamu tentu sudah tidak asing dengan nama “Nyonya meneer” dengan tagline nya “Berdiri Sejak 1919”. Di kota Sidoarjo inilah Nyonya meneer alias Lauw Ping Nio dilahirkan. Hingga sekarang Nyonya Meneer menjadi salah satu produk jamu tersukses di Indonesia, bahkan pada tahun 2006 berhasil memperluas pemasaran jamu ke Taiwan sebagai bagian ekspansi perusahaan ke pasar luar negeri setelah sebelumnya berhasil memasuki Malaysia, Brunei, Australia, Belanda dan Amerika Serikat.

  1. Semarang

Semarang merupakan kota di Jawa Tengah yang memiliki cukup banyak pabrik jamu. Maka tidak mengherankan jika Semarang menjadi salah satu penghasil jamu di Indonesia, diantara pabrik yang terkenal adalah PT Sido Muncul dan PT Jamu Jago.

  1. Yogyakarta

Siapa yang sangka jika jamu Tolak Angin yang sering Anda konsumsi ini awalnya menetas di Yogyakarta. Yogyakarta menjadi kota kelahiran dari PT. Sido Muncul. Dimana pada awalnya Sido Muncul merupakan sebuah industri rumah tangga yang dikelola oleh Ibu Rakhmat Sulistio tahun 1940 di Yogyakarta. Kini Sido Muncul menjelma menjadi sebuah perusahaan jamu yang sangat besar dan menjadi satu-satunya pabrik jamu tradisional bersertifikat farmasi. Meski kini pabriknya sudah pindah ke Semarang namun di Yogyakarta masih terdapat usaha milik keluarga Sido Muncul berupa hotel bintang lima bernama hotel Tentrem. Yang unik dari hotel ini adalah adanya menu eskrim dengan beragam rasa jamu. Es krim yang paling terkenal adalah es krim tolak angin yang mengkombinasikan jamu tolak angin dengan es krim.

 

Warna Baru dari Karanganyar

Akhir-akhir ini pemerintah kabupaten Karanganyar berupaya untuk mewujudkan “Karanganyar Maju dan Sehat”. Pada tahun 2015, pemerintah kabupaten Karanganyar kembali mengadakan Lomba Karya Ilmiah untuk pelajar, mahasiswa dan warga karanganyar yang salah satu temanya adalah tentang “Implementasi Pemanfaatan Herbal Sebagai Pengobatan dalam Bidang Kesehatan”. Hal ini menjadi salah satu upaya pemerintah Kabupaten Karanganyar untuk bisa mewadahi pemikiran dan aspirasi masyarakat untuk mewujudkan Karanganyar Maju dan Sehat. Pada lima tahun terakhir ini, pusat pengembangan jamu semakin tumbuh pesat di Karanganyar.

 

B2P2TOOT

IMG01487-20141011-0858

B2P2TOOT bermula dari kebun koleksi Tanaman Obat (TO), dirintis oleh Romo Santoso sejak awal tahun kemerdekaan. Pada tanggal 28 April 1978, yang mentransformasi kebun koleksi menjadi Balai Penelitian Tanaman Obat (BPTO) sebagai Unit Pelaksana Teknis di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan. Transformasi I sebagai lembaga Iptek memberikan nuansa dan semangat baru dalam mengelola tanaman obat (TO) dan potensi-potensi TO sebagai bahan JAMU untuk pencegahan, pemeliharaan dan peningkatan kesehatan rakyat. pada tahun 2006, dengan  Permenkes No. 491 tahun 2006 tanggal 17 Juli 2006, BPTO bertransformasi menjadi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT). Transformasi II tersebut memberikan amanah untuk melestarikan, membudidayakan, dan mengembangkan TOOT dalam mendukung pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Pada Transformasi III B2P2TOOT, dengan Permenkes No. 003 tahun 2010 pada tanggal 4 Januari 2010 Tentang Saintifikasi JAMU, Penelitian Berbasis Pelayanan. Sejak tahun 2010, B2P2TOOT memprioritaskan pada Saintifikasi JAMU, dari hulu ke hilir, mulai dari riset etnofarmatologi tumbuhan obat dan JAMU, pelestarian, budidaya, pascapanen, riset praklinik, riset klinik, teknologi, menajemen bahan JAMU, penelitian iptek, pelayanan iptek, dan diseminasi s.d community empowerment.

Untuk memenuhi kebutuhan simplisia, B2P2TOOT memiliki lahan seluas. Selain itu, B2P2TOOT juga memiliki sekitar 154 petani binaan di daerah Tawangmangu. Harapannya petani ini kedepan mampu untuk mandiri dengan menanam tanaman obat di lahannya.

 

Hortus medicus

klinik utk web

Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus adalah Klinik Tipe A, merupakan implementasi Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 002/Menkes/Per/I/2010 tentang Saintifikasi Jamu dalam penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan untuk menjamin jamu aman, bermutu dan berkhasiat. Bahan yang digunakan berupa simplisia yang telah terbukti khasiat dan keamanannya melalui uji praklinik.

Pada tanggal 31 Januari 2013 Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, meresmikan klinik saintifikasi jamu “Hortus Medicus” menjadi  Rumah Riset Jamu (Griya Paniti Pirsa Jamu), dan Gedung Pelatihan IPTEK Tanaman Obat dan Jamu di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT), Tawangmangu.

Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus didukung oleh tenaga dokter yang telah mengikuti berbagai pelatihan berbasis herbal, apoteker yang berpengalaman dalam formulasi tanaman obat, asisten apoteker serta tenaga laboratorium kesehatan. SDM terdiri atas 5 orang dokter, 1 orang apoteker, 3 asisten apoteker, 1 orang analis kesehatan (laboratorium), 1 perawat dan 1 rekam medis.

Klinik saintifikasi jamu merupakan klinik medis dengan standar pelayanan konvensional, tetapi untuk terapinya kita menggunakan jamu, prosedur pelayanan sama dengan prosedur pelayanan klinik pada umumnya. Pasien datang mendaftar dan diperiksa dokter,”katanya. Ia menjelaskan, berbeda dengan klinik pada umumnya, pemeriksaan di klinik saintifikasi jamu lebih holistic menitikberatkan kepada gaya hidup sehat, persoalan sosialnya, tetapi tidak meninggalkan pemeriksaan fisik dasar sebagai standar pelayanan dokter.

“Dokter kemudian akan memberikan resep berupa jamu herbal yang dapat ditebus di griya jamu klinik saintifikasi jamu. Di tempat ini resep pasien akan diproses dan diracik sesuai dosisnya juga ditentukan dengan usia pasien. Satu jenis jamu tidak bisa dipakai orang lain,” jelasnya.

Hortus medicus membuka jadwal praktek hari senin-jumat pukul 09.00-14.00 WIB. Biaya pengobatan relatif murah, yakni Rp 3000 untuk pendaftaran dan Rp 20.000 untuk biaya pengganti jamu. Pasien yang datang ke klinik ini pun meningkat dari hari ke hari. Yang semula hanya mengobati 7-8 pasien, kini klinik saintifikasi jamu Hortus medicus melayani 50-70 orang perharinya. Pasien paling banyak berasal dari daerah sekitar Tawangmangu, Magetan, Ponorogo, Semarang, Pemalang, Jogyakarta, Magelang, Cilacap bahkan ada yang datang dari Malaysia.

 

Cafe jamu

IMG02326-20150409-1052-595x340Untuk memperkenalkan produk tanaman obat yang langsung dapat dirasakan masyarakat, pada tanggal 18 Februari 2015 Bupati Karanganyar meresmikan  “Café Jamu”  bekerjasama antara Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar dengan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu di lingkungan rumah Dinas Bupati Karanganyar. Cafe tersebut menyediakan layanan kesehatan yang dilakukan dokter saintifikasi jamu. Masyarakat akan mendapat pelayanan pemeriksaan dan mendapat obat-obatan dari jamu.

“Café jamu berfungsi mendekatkan masyarakat Karanganyar dengan produk jamu, sekaligus memperkenalkan jamu yang mempunyai potensi besar untuk mendukung Karanganyar sehat dengan jamu. Apalagi jamu sudah menjadi warisan budaya dari nenek moyang kita”, ujar Bupati Karanganyar Juliatmono.

Menurut Juliatmono, mengembangkan produksi tanaman obat ditengah masyarakat akan mudah, asalkan ada kepastian pembeli produk tanaman obat tersebut. Dalam hal ini saya berharap B2P2TOOT Tawangmangu bersedia menampung hasil tanaman obat petani. Bila hal ini dapat terlaksana dengan baik, maka akan dapat meningkatkan kesehatan dan sekaligus kesejahteraan masyarakat.

 

Taman Herbal Lawu

Taman he246rbal lawu beralamat di Jalan Raya Solo-Tawangmangu, Km. 32,7  Desa Salam, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar merupakan yayasan yang menaruh perhatian umum pada pelestarian dan pemanfaatan potensi-potensi kekayaan dan keanekaragaman alam, hayati, dan kultural Nusantara, tetapi saat ini lebih memfokuskan perhatian pada tumbuhan herbal. Taman Herbal Lawu menyediakan fasilitas perpustakaan tentang tanaman obat yang lumayan lengkap, selain itu di pelataran Taman Herbal Lawu terdapat berbagai macam jenis tanaman obat beserta kasiatnya sehingga sangat cocok untuk belajar sekaligus refreshing.

 

 

 

Java Plant

Junius Rahardjo, Chief Operating Officer PT Tri Rahardja, mengklaim bahwa Javaplant merupakan produsen terbesar untuk ekstrak bubuk di Indonesia. “Fasilitas kami bisa memproduksi 100 ton/bulan untuk green tea dan black tea, sedangkan tumbuhan herbal lain 15 ton/bulan untuk,” ujarnya. Besarnya kapasitas produksi ini, menurut Junius, bahkan menjadikan Javaplant perusahaan ekstraksi terbesar di Asia Tenggara, malah jadi produsen ekstrak kayu manis dan pasak bumi terbesar di dunia.

Soal harga, ekstrak teh di pasar internasional dibanderol Javaplant US$ 9-13/kg. Ini harga barang sampai di tempat konsumen di seluruh dunia dengan minimal order 1 ton. Adapun harga ekstrak tanaman herbal berkisar US$ 20-1.000/kg.

Tidak puas hanya membidik pasar dari kalangan pabrik jamu, farmasi atau herbal, sejak 2007 Javaplant meluaskan pasar dengan masuk ke industri makanan, minuman dan kosmetik. Wajarlah, akhir-akhir ini banyak produk jadi (end product) yang menggunakan esktrak herbal. Teh hijau, misalnya, banyak dimanfaatkan untuk produk sampo, moisturizer, pasta gigi, dan sebagainya. Sementara kunyit sering digunakan untuk pewarna produk mi instan atau makanan bayi.

PT Tri Rahardja Java Plant, Karangpandan, Karanganyar merupakan perusahaan yang bergerak dalam  ekstraksi tumbuh-tumbuhan herbal dengan produk-produk yang diperuntukkan industri jamu, pharmaceutical dan nutraceutical. PT Tri Rahardja Java Plant, Karangpandan, Karanganyar pada bulan Mei 2015 lalu menjalin kerjasama dengan Perusahaan asal Malaysia, Biotech Corp Technology , dalam memproduksi dan memasarkan merek tanaman herbal di Malaysia.

Inilah pengembangan jamu di Kabupaten Karanganyar. Kolaborasi antara pemerintah, peneliti, petani, dan masyarakat menjadi penting untuk dapat memajukan jamu di Indonesia. Semoga dari Karanganyar ini dapat menjadi inspirasi daerah-daerah lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *