Ada Apa Dengan Cinta? Ada Apa Dengan Kita?

Film yang menyedot nyaris 3 juta penonton dalam seminggu itu pada akhirnya  menjadi perbincangan yang cukup nge-hits. Bahkan sampai sekarang ada yang pro ada juga yang kontra dengan alur ceritanya. Bahkan ada yang bilang ikutan baper maksimal cuma gara-gara kutipan puisinya Rangga.

 

Bagi yang belum nonton mungkin sedikit spoiler untuk menggambarkan kenapa sih AADC2 bisa membuat khalayak muda rela berjubel antri hanya untuk menontonnya. Sebagai salah satu orang yang ikutan ngantri bareng temen (ngunggulin antrian sembako raskin) hanya untuk nonton film berdurasi 124 menit ini, penulis akui itu adalah effort yang berlebihan. Serius! Ini bukan antri beasiswa LN lho. Fieww!

 

Jadi film lanjutan AADC1 itu bercerita tentang kehidupan Rangga, Cinta dan cs-annya 14 tahun setelah masa SMA mereka. Tentang persahabatan 4 orang  member Cinta-cs, tentang Cinta yang seharusnya menikah dengan Tritan, tentang cinta SMA yang belum kelar, tentang cinta lama yang bersemi kembali, tentang spot-spot klasik di Yogyakarta yang menjadi setting film ini, sampai pada akhirnya, sebuah ending yang paling diingikan sejuta penonton se-Indonesia. Cinta yang kembali menjadi milik Rangga. Cinta yang meninggalkan Tritan, terbang ke New York, dan kembali menemukan cinta sejatinya. Menutup protes ending yang menggantung dari AADC 1 14 tahun lalu. Cerita klise yang dibungkus keklasikan dan budaya Yogjakarta. Ada yang istimewa? Tidak juga. Harus pintar-pintar ngambil hikmah biar nggak nyesek sudah ikutan ngantri berjam-berjam sampe kelaperan. Hiks!

 

So, this is it, the other point of view from AADC 2.

Penulis ingin menitikberatkan pada persahabatan 4 member Cinta-cs. Persahabatan kondang dari jaman SMA sampai jadi ibu-ibu. Itu adalah jenis persahabatan yang digambarkan di film sebagai persahatan yang wow. Menerima sahabat yang sudah jadi pecandu kembali ke kelompok Cs-an mereka. Merangkai kisah-kisah bahagia melalui liburan di Yogja, hura-hura klub malam, sampai liburan mahal di vila. Terlalu sederhana kalau disebut persahabatan.

 

Bagaimana dengan kita? Ketika kita bisa merangkai persahabatan lebih hebat dari sekedar menerima sahabat apa adanya lalu jalan-jalan bahagia. Apa itu? Ukhuwah yang berdasarkan Allah ta’ala. Ukhuwah yang membuat kita berjuang di jalan yang sama dan (mungkin) berakhir di tempat yang sama kelak. Kita akan jadi sahabat yang bukan cuma menikmati waktu bersama, tapi juga tumbuh bersama dalam kebaikan. Itu intinya.

 

Ada 4 tingkatan ukhuwah yang harus kita tahu. Empat tingkatan itulah yang sebenarnya menentukan kualitas hubungan kita dengan sahabat kita. Pernah mendengar kisah saat surat terakhir  (Q.S Al Maidah; 3) turun di haji Wada? Saat itu Abu Bakar r.a menyampaikan kesedihannya saat umat muslim lainnya merayakan kebahagian mereka pasca Fathul Makkah (kemenangan umat Islam atas Makkah). Padahal Q.S Maidah ayat 3 adalah tanda kesempurnaan Islam yang diturunkan ke dunia. Lalau kenapa Abu Bakar bersedih? Karena saat itu Abu Bakar r.a merasa bahwa tugas Rasul di dunia ini sudah selesai, itu artinya Allah akan memanggil kekasih-Nya itu ke sisinya. Hanya pikiran sederhana yang membuat Abu Bakar selalu menangis setiap berasa di sisi Rasul setelah itu. Itu cuma contoh tingkat ukhuwah tertinggi yang disebut itsar.

 

Tingkatan lainnya adalah:

  1. Ta’aruf (perkenalan)

Hubungan di mana antara satu orang dengan orang lain sekedar tahu dan kenal.

  1. Tafahum (saling paham)

Di mana antara satu orang dengan yang lainnya memahami dan mengerti kondisi sesamanya. Contoh sederhananya adalah ketika bisa menjadi teman curhat.

  1. Takaful (saling meringankan beban)

Kondisi di mana kita bukan hanya menjadi sosok yang berempati tapi juga menggerakkan diri untuk meringankan beban sahabat kita.

  1. Itsar.

Tingkatan tertinggi kita bisa mengerti, memahami sahabat kita tanpa dia perlu mengatakannya kepada kita. Bahkan bisa lho, kita menjadi lebih memikirkan sahabat kita dibanding diri sendiri. Itulah itsar.

So, seberapa kualitas persahabatan kita dengan dia?

Tanpa kita sadari kualitas tersebut yang memudahkan perjalanan kita di jalan mana pun kita berada.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *