Kenapa Harus Belajar ‘Ngomong’? (Tentang Jurusan Ilmu Komunikasi)

 

Jika pada usia 1-2 tahun rata-rata manusia sudah bisa berjalan, sejak lahir sudah bisa mendengar dan usia 2 tahun sudah bisa “berbicara”. Lalu mengapa ada ilmu -bahkan jurusan- yang mempelajari tentang cara berkomunikasi? Tidak sedikit orang yang mengatakan komunikasi adalah ngomong. Padahal tidak selalu manusia berkomunikasi dengan berbicara, bisa dengan tulisan atau simbol. Lalu apa itu Ilmu Komunikasi? Apa pentingnya belajar komunikasi? Mari saya jabarkan, barangkali kalian menikmati.

Banyak di antara kita yang tidak tahu tentang jurusan Ilmu Komunikasi. Pernah ada pengalaman lucu, seseorang yang saya kenal dari komunitas nge-Whatsapp dan bertanya, “Dew, kamu anak ilkom kan? Ini laptopku kayak gini (dia mengirimkan foto laptopnya yang bermasalah). Kamu bisa benerin nggak?” Cukup menggelitik. Mungkin disini harus ditekankan berkali-kali. Ilmu Komunikasi (Ilkom) dan Ilmu Komputer (Ilkomp)/Teknik Informatika (TI) itu BERBEDA.

Saya kutipkan dari situs resmi Ilmu Komputer UI: “Program yang berjudul Ilmu Komputer dan Teknik Informatika pada dasarnya adalah program yang sama. Cakupannya cukup luas, mulai dari fondasi teoritis mengenai perancangan algoritma, yaitu konsep dasar yang melandasi pengembangan perangkat lunak, sampai kepada penerapan mutakhir berupa aplikasi robotika, kecerdasan buatan, bio-informatika, dan topic-topik menarik lainnya.”

Sedangkan Ilmu Komunikasi (dulu dikenal dengan jurusan publisistik) adalah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk mentransfer ide dari satu individu ataupun grup ke individu atau grup yang lain. Proses transfer itu sendiri bisa melalui media tulis, lisan maupun media lain (sumber: mengutip dari internet). Nah, paham kan? Intinya menekankan pada proses berkomunikasi itu sendiri. Tentu kita tahu, we cannot not communicate. Kita tidak bisa tidak berkomunikasi, karena manusia adalah makhluk sosial. Kita akan saling membutuhkan orang lain, di sini mahasiswa komunikasi dituntut untuk bisa menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan dengan baik.

Kalau lulusan sarjana ilmu Komputer bergelar S.Kom, lulusan sarjana Teknik Informatika bergelar S.T. maka lulusan sarjana Ilmu Komunikasi bergelar S.I.Kom.

Pentingnya jurusan S1 Ilmu Komunikasi

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatan itu. (QS. Al-Hujurat: 6)

“Siapa yang menguasai informasi, dialah yang menguasai dunia,” salah satu ucapan pepatah yang membuat saya bangga berada di jurusan ini. Informasi merupakan sesuatu yang penting. Informasi mampu mempengaruhi tindakan apa yang akan dilakukan untuk menanggapi suatu peristiwa. Nah, selama ini darimana kita memperoleh informasi? TV? Radio? Koran? Majalah? Atau media sosial? Apakah semua konten berita diambil dari realita? Settingan? Hoax? Berdasarkan sumber yang jelas? Atau memuat kepentingan pribadi?

Menurut pandangan pribadi saya yang baru menginjak semester 3, itulah salah satu pentingnya belajar di jurusan ini. Karena pembahasan kami di kelas tidak jauh-jauh dari berita yang sedang in. Sebagai contoh, terakhir kali ada mata kuliah Psikologi Komunikasi di kelas, kami membahas klasifikasi kelompok, terakhir mata kuliah Hukum Media Massa, kami membahas UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran studi kasus program Bukan Empat Mata yang berhenti tayang. Terakhir kali mata kuliah Sosiologi Komunikasi, kami membahasa budaya popular dan pertemuan mendatang akan membahas Mc Donaldisasi. Sedangkan terakhir kali mata kuliah Teori Komunikasi, kami membahas berita yang sekarang sedang hits, penistaan agama si Ahok dan kasus yang menjerat Buni Yani dari sudut pandang media. Barangkali pada pertemuan mendatang, nama Donald Trump akan sering kami ucapkan. Menarik bukan?

Berbeda ketika menginjak semester 5, karena jurusan ini sudah dispesialisasikan. Apa yang kami pelajari di semester ini? Jurnalistik, Video, Radio, Public Relation dan Advertising yang akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya.

Bagaimana serunya menjalani kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi?

Pernah ada seorang kakak tingkat di jurusan yang sama mengatakan, “Anak ilkom itu belum berasa kuliah kalo belum semester 5.” Entah penderitaan macam apa yang mereka rasakan. Karena pada semester awal, kami jarang mendapatkan tugas.

Jika anak-anak MIPA, Pertanian atau Teknik sibuk dengan praktikum atau nge-lab, kami anak sosial juga sibuk dengan laboratorium kami sendiri. Tapi laboratorium kami adalah di masyarakat. Jurusan Administrasi Negara akan membahas tentang pemerintahan, anak Hubungan Internasional akan sibuk mengurusi negara lain, Sosiologi? (bagaimana saudara Jamil Rizaldi?) mungkin sibuk dengan penelitian sosialnya. Lalu bagaimana dengan anak komunikasi? Kami cukup menanggapi apa yang ditayangkan media. Membaca koran, mengkritik KPI atau menanggapi isu-isu terkini. Untuk mahasiswa tua akan sibuk menonton iklan, membuat film pendek, menulis di koran atau mungkin siaran radio.

Mata kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi tidak jauh-jauh dari Psikologi (Pengantar Psikologi, Psikologi Komunikasi), Sosiologi (Pengantar Sosiologi, Sosiologi Komunikasi), Hukum (Pengantar Hukum di Indonesia hingga Hukum Media Massa), Filsafat, dan segala sesuatu yang berbau komunikasi dan politik. Di UNS Jurusan Ilmu Komunikasi memiliki 5 peminatan atau spesialisasi. Bagi yang sudah semester 5 wajib memilih 3 peminatan. Antara Radio/Video dan Public Relation/Advertising, sedangkan Jurnalistik adalah mata kuliah wajib.

  • Jurnalistik

Jurnalistik adalah ilmu, teknik, dan proses yang berkenaan dengan penulisan berita, feature, dan artikel opini di media massa, baik media cetak, media elektronik, maupun media online. Pengertian jurnalistik pun terkait erat dengan penulisan dan media (www.komunikasipraktis.com).

Menjadi seorang jurnalis adalah pekerjaan yang sangat menantang. Profesi ini membutuhkan mental dan fisik yang kuat. Pasalnya, pengalaman saya sendiri, menulis berita tidaklah mudah. Semua yang kita tulis adalah kebenaran di lapangan, belum jika ada revisi tulisan atau kehujanan ketika peliputan berita. Maka dari itu dibutuhkan fisik dan mental yang kuat. Tokoh pers Indonesia yakni Goenawan Mohamad, pendiri Majalah Tempo, seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis. Lalu Najwa Shihab dalam program “Mata Najwa.”

  • Radio

Menjadi seorang penyiar radio merupakan hal yang menyenangkan. Walaupun bekerja di radio tidak hanya menjadi seorang penyiar. Nah, menurut www. nyoozee.com menjadi penyiar radio tidak cukup dengan suara bagus, pentingnya intonasi, pengucapan istilah asing, memiliki wawasan, disiplin waktu dll. Semua perkejaan yang berhubungan dengan media harus dilakukan dengan profesionalitas tinggi, apalagi ketika menjadi penyiar kita harus on time, terutama saat siaran on air. Beberapa artis yang pernah menjadi penyiar adalah Ringgo Agus Rahman, Fitri Tropika, Indy Barends, Nicta Gyna dll.

  • Video

Di lingkungan komunikasi, tidak jarang beberapa mahasiswa mengikuti perlombaan video. Disini, akan mempalajari komposisi gambar, story board, sound, angle, video interaksional dll. Penugasan untuk spesialisasi ini juga tidak main-main, membuat video misalnya. Tugas membuat video edukasi/layanan masyarakat secara berkelompok menjadi keharusan bagi yang mengambil peminatan ini.

  • Public Relation/Hubungan Masyarakat

Public Relation ini adalah bagian perusahan yang berfungsi sebagai perantara komunikasi terutama dengan pihak luar perusahan / masyarakat umum yang ingin melakukan kerjasama atau meneyelesaikan urusan tertentu dengan sebuah perusahan maka akan berhubunga dengan staff public relation.

Seorang Public Relations harus selalu memutar otaknya untuk menyampaikan pesan – pesan perusahaan kepada masyarakat agar perusahaan yang dikelolanya senantiasa memiliki reputasi yang baik. Menantang, bukan? (www.berkuliah.com)

Penampilan menjadi hal yang harus diperhatikan mahasiswa jurusan PR, karena sikap orang lain banyak ditentukan dari bagaimana mereka menilai penampilan kita.

  • Advertising/Periklanan

Salah satu dalang dan tangan – tangan kreatif di balik berbagai iklan yang bertebaran di berbagai media ini adalah lulusan Ilmu Komunikasi. Kami berusaha mempengaruhi publik dengan pesan – pesan produk barang ataupun jasa yang ingin disampaikan, melalui pesan dan media yang unik serta kreatif agar siapapun yang melihatnya tergugah untuk membeli, menggunakan ataupun mempercayainya. Dalam iklan, semakin menarik dan membuat penasaran, maka semakin sukses dan efektif pula iklan tersebut. Prospek kerja dalam dunia advertising bagi lulusan Ilmu Komunikasi, antara lain sebagai project leader advertising, copy writer, camera person, media planner, dan lain – lain. (www.berkuliah.com)

Prospek kerja jurusan Ilmu Komunikasi yakni broadcast, penyiar, jurnalis, MC, announcer, humas, event organizer, praktisi periklanan, marketing communications, fotografer, editor video/gambar, sutradara, produser, konsultan periklanan, staf pemasaran, manajemen perusahaan media dll.

Ya. Saya adalah mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Masuk gerbang jurusan ini memang tidak mudah, karena jurusan ini cukup diminati. Tapi untuk keluar dan menyabet gelar sarjana lebih susah lagi. Terutama setelah masuk dunia kerja, kemampuan dan profesionalitas menjadi kunci untuk bertahan di dunia media. Untuk kalian yang berminat di jurusan ini, pikirkan sekali lagi. Apakah ini passion kalian?

Penulis: Dewi Purwaningrum. Silahkan bertanya apabila membutuhkan informasi lebih lengkap di 087812991797 (WA)

One thought on “Kenapa Harus Belajar ‘Ngomong’? (Tentang Jurusan Ilmu Komunikasi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *