Matematika ≠ Menghitung, tapi Matematika = Bersenang-senang (Tentang Jurusan Pendidikan Matematika)

 

Tahapan perkembangan kemampuan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung (calistung) bukanlah keterampilan yang dapat begitu saja dikuasai anak. Terdapat keterampilan-keterampilan pendahuluan yang harus dimiliki anak untuk akhirnya bisa menyimak, berbicara membaca, menulis, dan berhitung.

Mungkin sebelumnya sudah dijelaskan oleh Dewi tentang kenapa harus belajar “ngomong”. Karena “ngomong” atau berbicara sendiri merupakan salah satu tahap tumbuh kembang anak. Dari Dewi kita paham bahwa berbicara adalah hal penting yang dapat menghubungkan atau mengkomunikasikan kita terhadap lingkungan. Entah itu lingkungan sosial maupun alam. Nah, beranjak dari itu patinya kita butuh belajar apa itu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dimana ke empat aspek tersebut merupakan tahap dalam keterampilan berbahasa. Apakah hanya sebatas itu saja? Tentu tidak. Kecakapan dalam berhitung juga diperlukan. Disinilah ilmu abstrak yang kerap di panggil dengan nama “Matematika” muncul. Ilmu berhitung bahasa umumnya. Dibagian ini Putri mau mengulas sedikit tentang pentingnya berhitung.

Dalam kehidupan sehari-hari, ilmu matematika sangat diperlukan. Ilmu matematika tidak langsung menjelaskan kita bagaimana cara berhitung lho, tapi ilmu ini juga menjelaskan kita arti simbol-simbol yang biasa kita sebut dengan “angka”. Disetiap lini kehidupan pasti kita menemui “angka”. Jadi, tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu matematika tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Coba dari dulu ilmu matematika tidak pernah ditemukan, dan tidak pernah diajarkan. Mungkin kita tidak bisa melakukan sesuatu dengan takaran yang sama. Misal seorang petani hendak memupuk sawah. Apakah petani langsung serta merta menebar pupuk tanpa takaran? Nah, “takaran” ini terdapat nominal atau angka disana, yang berarti matematika turut andil di dalamnya. Ribet ya matematika? Tidak. Matematika itu menyenangkan.

 

Apa Bedanya Jurusan Matematika dan Pendidikan Matematika?

Banyak yang bertanya-tanya perbedaan Pendidikan Matematika dan Matematika Murni. Jelas ya, nampak dari kata-katanya saja sudah berbeda. Karena embel-embel pendidikan yang membuat cita rasa matematika jadi sedikit lebih gurih nyoii. Mengapa demikian? Karena Pendidikan Matematika dan Matematika Murni memiliki bahasan yang sedikit berbeda. Walau memang rumpun kami sama, Matematika. Pendidikan Matematika banyak disisipi ilmu terkait pendidikan, seperti mata kuliah Ilmu Pendidikan, Telaah Kurikulum, Profesi Kependidikan, Perencanaan Pembelajaran Matematika, Pembelajaran Matematika Inovatif, dan lain sebagainya. Hehehe…, Pendidikan Matematika itu bukan cuma menghitung dan selalu bertemu angka lho. Jangan salah presepsi ya. Ada kalanya kita dipertemukan dengan huruf yang dirangkai dalam kata. Hal yang pasti adalah kami tidak jauh-jauh dari kata definisi, teorema, lemma, dan aksioma. Ini penting! Jika suatu rumus sudah didefinisikan, kita tidak boleh meragukannya. Pokoknya tinggal telan bulat-bulat definisi itu. Beda dengan teorema yang harus dibuktikan. Definisi itu sudah paten dan tentu benar, sedang teorema masih bisa terbantahkan (kalau ada yang mau menyanggah dengan pembuktian). Seperti halnya kitab suci, tidak ada keraguan di dalamnya, paten.

Luaran atau lulusan Pendidikan Matematika tentu harapannya menjadi pendidik atau guru. Karena kami selama masa perkualiahan strata S1 selalu digembleng bagaimana cara mengajar, bagaimana cara menarik perhatian siswa, bagaimana menjadi seorang Guru (digugu lan ditiru). Jangan anggap remeh profesi yang satu ini lho. Menjadi guru itu suatu hal yang mulia. Dalam Islam, tercatat 3 amal yang tidak akan putus walau sudah meregang nyawa. Apakah itu?

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah bersabda:

Artinya: “Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): shodaqoh jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak yang sholeh yang mendoakannya“. (HR. Muslim)

“ilmu yang dimanfaatkan” dapat diartikan memberikan ilmu yang dimiliki, kemudian diberikan kepada orang lain hingga ilmu kita bermanfaat bagi orang lain tersebut. Subhanallah, sungguh mulia kinerja seorang guru. Investasinya itu dunia dan akhirat. Masih ragu dengan profesi yang satu ini? Hehehe..

Guru adalah profesi yang membukakan jalan amal. Fungsi guru tidak sekedar mentrasfer ilmu, tapi juga mendidik. Memangnya beda mentrasfer ilmu dengan mendidik? Wah, tentu beda. Mendidik ini adalah ranah sikap yang kami cuplik. Karakter anak biasa terbangun dari sini. Manfaat ilmu Matematika akan muncul ketika guru berhasil mendidik anak didiknya. Misalnya sikap teliti, hati-hati, logis, dan lain sebagainya. Terlihat sulit ya? Sebenarnya tinggal dijalani saja, karena kita sama-sama berproses. Evendan Ball (2009:1) mengatakan “ … teachers are key to students’ opportunities to learn mathematics.” Artinya, guru adalah kunci bagi siswanya yang akan memberikan peluang untuk mempelajari matematika. Tanpa guru apa jadinya murid nanti? Tidak semua hal bisa dipelajari dengan autodidak. Karena itulah guru berperan aktif disini.

“Education is the most powerful weapon we can use to change the world”

(Nelson Mandela)

Proses menjadi guru tidaklah mudah. Ya, begitu juga dengan proses menjadi jurnalis misalnya. Dikutip dari pendapat Pak Yusron Aminullah dalam bukunya Mindset Pembelajaran yang membagi sosok Guru dalam 5 kategorisasi, membuat Putri sedikit berpikir, “Mau jadi seperti tipe apakah Putri kelak?”. Karena Pak Yusron membagi kelima kategori ini diambil dari terminologi kategori manusia dalam berhubungan sosial yang sering dipakai budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun). Menurut beliau, dengan kelima kategori ini kita akan mudah menilai keberhasilan guru dalam mengajar dan mendidik. Sedikit mengocok memang, tapi ini termasuk membuka wawasan. Terutama bagi Putri sendiri. Kepo ya? Lima kategori sosok guru terbagi menjadi guru wajib, guru sunah, guru mubah, guru makruh, dan guru haram. Menyerupai pembagian hukum dalam islam ya. Oke, Putri jabarkan satu-satu.

Guru Wajib

 

Guru wajib ini adalah guru yang memiliki akhlak mulia. Semua orang merasa senang dengan kehadiranya. Banyak memberi manfaat bagi sekelilingnya. Jika guru tersebut berhalangan hadir atau tidak ada di sekolah, siswa akan merasa kehilangan.

 

Guru Sunah

 

Guru sunah adalah guru yang berprestasi. Beliau memiliki etos kerja baik dan seorang pribadi yang menyenangkan. Namun jika jika guru tersebut berhalangan hadir atau tidak ada di sekolah siswa biasa-biasa saja. Kehadiran guru ini dianggap normal.

 

Guru Mubah

 

Guru mubah maksudnya seorang guru yang tidak memiliki motivasi dan asal-asalan. Beliau juga tidak memikirkan kualitas dan prestasi. Menurutnya, mengajar hanyalah sekedar transfer ilmu. Ada dan tidak adanya guru tersebut membuat siswa merasa biasa-biasa saja.

 

Guru Makruh

 

Guru makruh ialah guru yang kelakuannya sering menjadi biang gosip. Kehadirannya hanya membicarakan hal yang sia-sia. Sifatnya ketus, cuek, dan acuh tak acuh. Kehadiranya menjadi masalah dan ketiadaanya menjadi hal yang biasa-biasa saja.

 

Guru Haram

 

Nah ini, guru haram. Guru haram ialah tipikal guru yang lebih parah dari guru makruh. Dapat dibayangkan sendiri bagaimana “parahnya” tipe yang satu ini. Kehadiranya amat menjengkelkan dan ketiadaanya sangat disyukuri. Sedih ya .

 

Oke, Putri cukupkan ya. Walau ulasannya hanya sepenggal-sepenggal, Putri harap bisa sedikit memberi pencerahan buat pembaca. Oiya, Putri mahasiswi Pendidikan Matematika Univesitas Sebelas Maret Surakarta. Jurusan atau sebenarnya disebut Program studi ini lumayan banyak peminatnya lho. Jadi yang mau join dalam keluarga Pendidikan Matematika harus mempersiapkan diri ya! Hanya mereka yang terpilihlah yang dapat bertahan.

Penulis: Putri Rizqi Musthofa. Jika ada hal-hal yang perlu ditanyakan bisa menghubungi putri via line @putrielmoes atau email putri.rizqi15@gmail.com. Jangan lupa beri nama terang ya

 

2 thoughts on “Matematika ≠ Menghitung, tapi Matematika = Bersenang-senang (Tentang Jurusan Pendidikan Matematika)

    1. Sebelumnya Terimakasih Devi, sudah mengunjungi web kami. Izinkan saya membantu menjawab pertanyaan saudari.
      Untuk Matematika murni tidak lekang dari masalah perhitungan. Matematika merupakan ilmu itu sangat luas, jadi dalam mempelajarinya tidak sekedar hitung-menghitung saja. Terutama Matematika murni, disana kita akan belajar menganalisis, berpikir logis, dan berpikir kritis. Akan banyak hal yang mengejutkan dibalik semua pikiran kita tentang matematika itu sendiri. So, tunggu apalagi? Masih penasaran tentang dunia Matematika? Selamat berkecimpung dan rasakan sensasinya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *