Kebidanan

JANGAN MEREMEHKAN KUALITAS MAHASISWI KEBIDANAN

(TENTANG JURUSAN KEBIDANAN)

Apa yang terlintas dipikiran kalian tentang kebidanan? Tidak jauh-jauh jawaban kalian pasti tentang melahirkan bayi dan imunisasi. Iya, benar sekali. Tugas seorang bidan memang sangat berhubungan dengan hal seperti itu. Seorang bidan dikenal sebagai seorang profesional yang bertanggung jawab yang bekerja sebagai mitra perempuan dalam memberikan dukungan yang diperlukan, asuhan dan saran selama kehamilan, periode persalinan dan memberikan perawatan pada bayi.

Kebidanan sendiri terdiri dari dua prodi yaitu prodi D3 Kebidanan dan D4 Kebidanan. Bedanya apa sih dari keduanya tersebut ?

Perbedaan D3 Kebidanan dan D4 Kebidanan

  1. Gelar yang didapatkan setelah menjalani masa perkuliahan pastinya berbeda. D3 kebidanan jika dia lulus nanti gelarnya A.Md Kebidanan bisa lanjut ke program D4. Kalau D4 Kebidanan nantinya jika dia lulus akan mendapatkan gelar pendidikan dengan gelar S.S.T. Karena D4 sudah setara dengan S1. Jadi lulusan D4 kalau mau melanjutkan pendidikan bisa langsung ke S2.
  2. Pembukaan praktik mandiri kebidanan sekarang minimal lulusan D4 Kebidanan dan sudah menempuh pendidikan profesi, jadi lulusan D3 kalau ingin membuka praktik mandiri harus melanjukan dulu ke D4.
  3. Perbedaan lain dari D3 dan D4 kebidanan adalah jika kalian menjadi PNS maka ijazah D3 kebidanan hanya bisa membuat kalian mendapat Golongan awal II C dan maksimal III C, sementara itu ijazah D4 golongan awalnya adalah III A dan bisa digunakan sampai maksimal golongan IV C. FYI, tiap golongan memiliki gaji yang berbeda-beda.

Harus diakui, jurusan ini tidaklah sepopuler Jurusan Kedokteran Umum dan Kedokteran Gigi. Tapi daya tarik Jurusan Kebidanan tak pernah memudar dari tahun ke tahun. Karena kebutuhan tenaga kesehatan yang makin meningkat membuat Jurusan ini tak pernah sepi pendaftar. Sayang, masih banyak orang yang memandang anak-anak Jurusan Kebidanan dengan sebelah mata. Seakan mereka yang kuliah di Jurusan Kebidanan dididik jadi pekerja kesehatan “kelas 2” yang tidak pantas dihargai seperti kita menghormati Dokter dan Dokter Gigi. Padahal, mahasiswi Jurusan Kebidanan punya kualitas yang tak dimiliki tenaga kesehatan lainnya lho!

  1. Mereka yang Memutuskan Kuliah di Jurusan Ini Sudah Benar-Benar Tahu Apa yang Hendak Dilakoni

Memutuskan kuliah di Jurusan Kebidanan hampir sama dengan menandatangani kontrak seumur hidup untuk mengabdi pada masyarakat. Tak ada lagi kesempatan untuk “berpindah jalur” dan menjajal profesi lain. Mahasiswi Kebidanan akan terus melakoni profesinya sebagai bidan sebagai pekerjaan utama. Profesi lain seperti jadi dosen, berjualan, hingga membuka bisnis biasanya ditempatkan sebagai pekerjaan kedua.

 

  1. Pendidikan di Jurusan Kebidanan Itu Tak Ringan, Butuh Kerja Keras dan Keuletan

Jangan salah. Kuliah di Jurusan Kebidanan itu tidaklah mudah. Sama seperti cabang Jurusan Kesehatan lain, pendidikan Kebidanan menuntut komitmen dan upaya besar untuk menuntaskannya. Di semester awal, anak-anak Kebidanan harus berpayah-payah menghapal anatomi tubuh manusia. Belum lagi harus berusaha memahami sistem kerja sel dan syaraf dalam Mata kuliah Fisiologi.

Belum cukup sampai di situ, mahasiswi Kebidanan juga wajib mengerjakan Asuhan Kebidanan (Askeb) yang merangkum dokumentasi tindakan apa saja yang mereka lakukan pada pasien. Askeb ini tidak boleh diketik, harus ditulis tangan. Kalikan saja jumlah Askeb yang harus dibuat sesuai banyaknya jumlah mata kuliah yang diambil pada semester tersebut.

Jadwal kuliah mahasiswi Kebidanan pun terkenal padat. Terkadang, Sabtu dan Minggu yang seharusnya jadi waktu libur terpaksa beralih fungsi jadi hari kuliah dan praktikum. Hanya orang-orang yang punya kemauan dan semangat juang tinggi yang mampu bertahan di jurusan yang tugas-tugasnya macam kerja rodi seperti ini.

 

  1. Berkuliah di Jurusan Kebidanan Membentuk Mereka Jadi Orang yang Taat Aturan

“Kerasnya” pendidikan di Jurusan Kebidanan tidak hanya terletak di mata kuliah, praktikum, dan praktik klinisnya saja. Mahasiswi Jurusan Kebidanan juga diharuskan mengikuti aturan ketat yang dimiliki oleh kampus. Mereka harus mengenakan pakaian yang telah ditentukan, datang tepat waktu, di beberapa akademi kebidanan bahkan cara menata rambut dan warna kaus kaki juga turut diatur.

Saat kawan-kawan seumuran bisa ke mall sepulang kampus dengan pakaian cantik berwarna-warni, anak-anak Akademi Kebidanan harus puas jalan-jalan dengan baju seragam. Ketika orang lain bisa santai-santai di rumah saat akhir pekan, anak Kebidanan harus rela duduk manis di klinik berjaga menunggu pasien datang. Hidup sebagai mahasiswi kebidanan membuat mereka terbiasa menaati aturan main yang telah ditetapkan. Mereka tahu, kealpaan menerapkan kedisiplinan bisa membuat satu nyawa tak berdosa melayang.

 

  1. Mahasiswi Jurusan Kebidanan Mengerti: Mengabdi Itu Perkara Melayani

Pengabdian seorang bidan tidaklah main-main. Ia harus rela ditempatkan di daerah terpencil demi membantu masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan dasar. Menjadi bidan berarti merelakan pintu rumahnya diketuk tengah malam saat ada balita yang panas hingga kejang-kejang. Seorang bidan harus rela waktunya bersama keluarga terkebiri jika mendadak ada ibu hamil yang membutuhkan bantuan persalinan.

Mahasiswi Jurusan Kebidanan memang dididik untuk jadi pelayan masyarakat. Mata kuliah “Etikakolegal Kebidanan” yang didapatkan di bangku kuliah mengajarkan mereka etika dan tingkah laku yang wajib dimiliki oleh bidan, bagaimana bersikap dan menghadapi pasien, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di tengah masyarakat.

Semua pengabdian tersebut kadang luput tertangkap mata. Mereka sering tidak mendapat sorotan yang seharusnya layak diterima. Dalam beberapa kasus, bahkan gaji bidan harus tertunda sampai beberapa bulan lamanya karena kebobrokan birokrasi. Namun para bidan tetap berada di garda terdepan pelayanan kesehatan. Mereka tak peduli, ada yang memperhatikan kerja mereka atau tidak. Masyarakat membutuhkan bantuan, dan mereka selalu siap untuk mengulurkan tangan.

 

  1. Tak Hanya Terampil, Bidan Juga Selalu Diajari untuk Bekerja dengan Hati Nurani

Pendidikan Bidan tidak hanya membentuk seseorang jadi tenaga kesehatan yang handal. Bidan juga dilatih untuk selalu bekerja dengan hati nurani. Kepekaan hati tidak bisa dilepaskan dari pekerjaan yang selalu berhubungan dengan manusia lain ini.

Hanya orang-orang yang punya hati nurani yang mau merelakan kenyamanan hidupnya untuk membantu kelahiran makhluk baru di dunia. Hanya orang dengan hati nurani bersih yang mampu berkata “tidak” pada godaan untuk melakukan aborsi yang bayarannya berlipat kali gaji. Mahasiswi kebidanan adalah mereka yang punya tangan terampil, pun memiliki hati yang tak kalah luas untuk selalu membantu orang yang membutuhkan bantuan.

 

  1. Mahasiswi Kebidanan adalah Pribadi yang Mudah Beradaptasi

Sejak masih kuliah, mahasiswa kebidanan terbiasa berpindah tempat dari satu rumah sakit atau puskesmas ke fasilitas kesehatan lain demi melaksanakan praktik klinik. Dalam kegiatan wajib yang harus dilakoni setidaknya tiga semester ini, mereka diharuskan beradaptasi dengan lingkungan kerja yang berbeda.

Belum lagi nanti saat sudah benar-benar bekerja di tengah masyarakat, mahasiswi kebidanan harus bisa luwes bersikap dan mampu membawa diri demi menghadapi tingkah laku pasien yang beragam. Konsekuensi profesi sebagai bidan membuat mereka harus siap ditempatkan di seluruh pelosok Indonesia. Sedari masih jadi mahasiswa mahasiswi kebidanan memang telah dipersiapkan untuk jadi bunglon yang handal menyatu di tengah berbagai kultur masyarakat.

 

  1. Mereka Dibekali dengan Kemampuan Mendengar dan Kebisaan untuk Berempati

Sebagai petugas medis, terkadang skill dan pengetahuan saja belum cukup. Masih ada hal lain yang lebih penting dalam hubungan antara pasien dan petugas medis: komunikasi dan empati. Orang yang sakit tak hanya butuh obat untuk sembuh– ia juga butuh merasa didengarkan, butuh seseorang yang memahami dan mau memberikan perhatian.

Mahasiswi kebidanan memang dipersiapkan untuk jadi petugas medis yang tak hanya terampil, tapi juga memiliki tingkat empati yang tinggi. Ia rela mendengarkan keluhan tentang kaki bengkak dan kontraksi palsu yang dialami oleh ibu hamil yang ia bahkan tak kenal, seorang bidan akan turut merasa prihatin saat melihat anak yang pertumbuhannya di bawah garis merah Kartu Menuju Sehat.

Tingginya empati bidan makin terlihat saat mereka membantu proses persalinan. Kehadiran bidan di samping ibu yang sedang melahirkan tak sekedar bertujuan memberikan pelayanan kesehatan — mereka juga ada untuk mendukung dan memberikan dorongan mental. Ucapan penyemangat, tangan yang selalu tersedia untuk diremas saat proses persalinan makin menyiksa, hingga hitungan 1-2-3 yang jadi panduan untuk mengejan tak pernah berat diberikan.

Mereka menyadari, layanan kesehatan terbaik selalu melibatkan petugas yang pengetahuannya handal dan punya kepedulian tinggi.

 

  1. Masa Depan Mereka Juga Menjanjikan Sebab Bidan Kini Makin Banyak Dibutuhkan

Jangan salah. Bidan itu potensi mapan secara finansialnya besar. Kebutuhan bidan terus meningkat dari tahun ke tahun. Lapangan pekerjaan bagi mereka pun luas, mulai dari bekerja di instansi pemerintah; fasilitas kesehatan swasta; sampai membuka layanan praktik sendiri. Bayangkan, selain menerima gaji dari instansi mereka juga bisa menawarkan jasa secara pribadi yang tentu berdampak langsung pada menungkatnya penghasilan.

Lompatan finansial juga sering ditemukan pada lulusan Akademi Kebidanan yang bersedia ditempatkan di luar Jawa yang notabene kebutuhan tenaga kesehatannya masih jauh dari mencukupi. Walau tinggal di pedalaman — amat biasa bagi para bidan jika punya rumah besar, mobil pribadi, dan kehidupan yang nyaman. Tak jarang anak-anak mereka justru disekolahkan di Pendidikan Dokter karena mereka telah mengerti betapa menjanjikannya lahan pekerjaan ini.

 

  Prospek kerja jurusan kebidanan luas banget

  1. Instansi Kesehatan Pemerintah / PNS

Ya, setelah lulus, banyak dari lulusan Kebidanan yang bekerja di Instansi Kesehatan Pemerintah, dan menjadi PNS. Contohnya jadi PNS di Kementrian Kesehatan dan Dinas Kesehatan, Rumah Sakit Umum Daerah, Puskesmas, dan lain sebagainya.

  1. Klinik / Balai Pengobatan

Sekarang udah banyak banget klinik dan Balai Pengobatan Swasta yang modern. Pastinya kebutuhan sumber dayanya juga banyak. Di sektor ini bidan banyak dicari.

  1. Rumah Sakit

Lulusan Kebidanan juga bisa melamar ke Rumah Sakit, baik itu RSUD maupun Rumah Sakit Swasta. Biasanya akan ditempatkan dibagian persalinan, bersama dokter persalinan.

  1. Membuka Klinik Sendiri

Bosen kerja sama orang lain? Pengen jadi bos? Kamu bisa mendirikan klinik sendiri. Tapi tetep, kamu harus dapat sertifikasi profesi bidan ngajuin ijin praktek sendiri.

 

Nah, udah kebayangkan tentang prodi kebidanan, prospek kerja jurusan kebidanan? Pastinya udah ngerti juga dong bedanya D3 Kebidanan, D4 Kebidanan. Semoga artikel ini bisa membantu kamu memantapkan hati yaa..

 

Tentang penulis

Perkenalkan namaku Astrit Pratiwi mahasiswa D4 Kebidanan, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Kalau mau kepo tentang jurusan kebidanan,bisa bisa tanya ke nomor 08981622611 yaa… semangat.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *