Koperasi Membangun Kesejahteraan Umat

Beberapa bulan yang lalu, salah seorang teman membuat status di Instagram; katanya ingin membuat model usaha atau bisnis yang keuntungannya untuk seluruh masyarakat. Jawaban yang paling ideal tentu adalah koperasi. Namun koperasi di Indonesia yang berjargon “Soko Guru Perekonomian” tidak berkembang pesat seperti di luar negeri, yang bisa berkembang seperti perusahaan swasta besar. Lebih parah dari itu, image koperasi umumnya adalah tempat untuk meminjam uang. Umumnya yang masih bertahan adalah koperasi simpan pinjam dan koperasi pegawai yang unit usaha umumya dikenal publik adalah simpan pinjam. Namun, masih ada koperasi lain yang digawangi seperti koperasi mahasiswa, yang umumnya tidak diketahui para mahasiswa, kecuali anggotanya.

Sebenarnya banyak koperasi yang berkembang di Indonesia dan dunia cukup berkembang, seperti klub sepak bola Barcelona, Real Madrid, dan hampir semua club sepak bola di Jerman. Selain itu, ada perusahaan listrik di Benua Amerika yakni The National Rural Electric Cooperative Association (NRECA), yang meliputi Amerika belasan negara Amerika Latin. Sedangkan beberapa koperasi yang berkembang di Indonesia diantaranya Koperasi Susu Sae Pujon Malang (Aset 66 Milyar, anggota 8000 lebih), KUD Karya Mukti di Sumatera (Kepemilikan Aset 27 Milyar, Unit Usaha 8, anggota 1248, Omzet 128 Milyar lebih), Koperasi Karyawan Semen Gresik (Aset 3 Triliyun), Kospin Jasa (Aset 4,5 Triliyun, Anggota 12,550 lebih).
Sistem koperasi sebenarnya menarik, dari model kepemilikan aset dan sistem akuntasinya menunjukan syarat akan nilai-nilai koperasi diantaranya kekeluargaan, keadilan, dan sebagainya. Dominasi kepemilikan modal pada koperasi pun dibatasi. Umumnya elemen penyokong modal yang wajib pada koperasi adalah simpanan pokok (dibayarkan sekali saat masuk), dan simpanan wajib (dibayarkan rutin sesuai kesepakatan). Modal-modal tersebut kemudian diputar untuk usaha dan menyisakan laba yang sebagian dibagi dalam bentuk Sisa Hasil Usaha (SHU) dan sebagian ditahan dan menjadi tambahan modal. Selain itu, tidak menutup kemungkinan ada modal dari pihak luar. Sedangkan anggota yang punya dana lebih bisa disimpan di koperasi dalam bentuk simpanan sukarela, dan tentu itu berdampak pada kemampuan keuangan koperasi, namun simpanan sukarela itu tidak masuk dalam komponen modal, namun tabungan, dan dalam koperasi dicatat sebagai hutang, jadi tidak ada bagi hasil atas simpanan sukarela. Sehingga semakin banyak anggota koperasi, maka modal koperasi semakin besar, apabila para pengurusnya berkompeten dalam bidang bisnis, maka perkembangannya akan sangat pesat.

Sisa Hasil Usaha (SHU) / Bagi Hasil Koperasi
Sistem bagi hasil perhitungannya berdasarkan simpanan wajib dan simpanan pokok, jadi seluruh anggota mendapatkan jumlah yang sama, selain itu ada tambahan SHU dari pengguna jasa, seperti jasa atas pinjaman atau jasa atas pembelian. Jadi semakin banyak melarisi koperasi, maka akan mendapatkan semakin banyak tambahan SHU. Namun skema tersebut tidak kaku dan bisa dilakukan berdasarkan kesepakatan.
Nah, sistem ini sangat menarik, kan? Namun impelentasinya sangat berat di lapangan karena koperasi sendiri praktiknya sudah tereduksi, dan seringkali stigmanya buruk. Tidak jarang juga koperasi digunakan untuk tameng hukum rentenir atau bang plecit. Sebagian orang ada yang menerapkan model usaha seperti itu dengan penggunaan nama lain, seperti ekonomi komunitas, ekonomi jamaah, ekonomi kerakyatan, dan lain sebagainya.

Koperasi VS Oligargi Kapitalis
Sudah jamak diketahui political cost di Indonesia sangat besar. Tentu kita tahu, seperti pada saat Pilpres kemarin di belakang kedua paslon (01 dan 02) ada para konglomerat dengan modal yang bisa dikatakan tidak terbatas, tentu mereka mendukung karena ada kepentingan yang paling jelas yakni mengamankan aset mereka dan mempermudah aturan hokum untuk peningkatan aset mereka.

Seandainya koperasi bisa tumbuh besar, dan jumlahnya banyak, tentu itu akan sangat mengganggu para konglomerat. Tentu sadar konstribusi anggota koperasi yang ideologis membela kepentingan rakyat dalam pemilu jelas jauh lebih minim biayanya, daripada yang dikeluarkan para oligarkan untuk mengkondisikan kandidat yang mereka dukung memeroleh suara.

Peluang Pengembangan
Apabila sistem seperti bisa masif diterapkan, biasa berkembang besar dan terduplikasi dengan berbagai diversifikasi tentu bisa membangun jejaring antar lembaga yang dampak turunnya luar biasa. Tentu sangat memungkinkan sekali membuat currency sendiri untuk alat tukar dalam jejaringnya. Misalnya mencetak kepingan bimetal (emas dan perah) berukuran kecil dan diapraisal sesuai nilai intrinsiknya dan disepakati keabsahannya untuk transaksi pada intern komunitas. Tapi tentu ada segelintir pihak yang resisten.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *